Bangsa Indonesia hari ini diperhadapakan pada sistuasi yang darurat. tetapi bukan akibat ekonomi yang memburuk, atau gonjang-ganjing politik yang semakin memusingkan kepala, atau berbagai kebijakan publik yang tampak semerawut , m elainkan, bangsa ini darurat akibat hilangnya budaya untuk berpikir kritis, rasional itas dan kejernihan nalar. Penyebabnya adalah mereka tidak diajar sejak dini bagaimana harus berpikir demikian. Membicarakan pendidikan di Indonesia akan selalu mengundang rasa keperihatinan, sejauh pengalaman dan pengamatan saya, pendidikan di Indonesia masih jauh dari hakikat kata pendidikan itu sendiri, sebab yang di dorong bukalah upaya untuk berpikir kritis dan rasional melainkan panggung penyebaran ajaran yang bersifat dogmatisme. Kepatuhan buta dan hafalan adalah metode pengajaran yang utama. Sejak sekolah dasar, dogmatisme nilai akademik sebagai tolak ukur seluru proses pendidikan dan formalisme agama yang juga diajarkan secara dogmatis adalah “warna...
Pandemi belum berakhir, duka masi terus berlangsung, ratusan orang kehilangan saudara, anak kehilang orang tua dan sebaliknya, tingkat kemiskinan kian meningkat kelaparan seakan menjadi wabah lain di tengah pandemi, perang di timur tengah seperti tidak berujung, bom terus meledak memporak-porandakan Afganistan, nyawa manusia seakan tidak ada artinya dan berbagai persoalan lain menghantui kemanusian dunia modern hari-hari ini. Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan lama : Dimana Allah di tengah semua penderitaan dan kejahatan ini? Persoalan ini penting dan sering diperdebatkan, Tuhan dan adanya penderitaan dan kejahatan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kejahatan dan penderitaan yang dialami manusia, seakan menuntut pertanggungjawaban dari Allah Sang Pencipta segalanya. Diperhadapkan pada kesan diamnya Allah terhadap penderitaan dan kejahatan itu pertanyaan tentang eksistensi Tuhan menjadi tak terhindarkan. Kalau Allah Maha-baik, kenapa Dia menciptakan atau ...