PELANGI SEHABIS HUJAN
Riyan menatap jam di tangannya waktu menujukan pukul lima lewat empat puluh delapan menit waktu indonesia bagian tengah, hari ini terasa berlalu begitu cepat baginya, tak terasa hampir dua jam dia berada di puncak gunung yang hanya bertemankan hembusan angin yang kian berhembus semakin kencang, hingga kedinginnan kian merasuk melalui selah pori-pori kulitnya. Sejenak dipanglingkan wajahnya ke horizon di ujung barat, mentari kian terbenam begitu indahnya dengan bias-bias jingga yang mengantarkan sang surya yang kian tenggelam di ufuk barat.
Kegelapan mulai menyelimuti hari itu. Diyalakannya api unggun yang sudah di persiapkannya sejak sore tadi, dengan segelas kopi hangat dia duduk di dekat api untuk menghangatkan badannya ditengah dinginnya puncak Mussa’. Pikirannnya terbawa pada kejadian beberapa tahun silam, mungkin karena hembusan angin malam itu serasa bersaudara dengan angin sepoi-sepoi di tepih danau Tondano dua tahun yang lalu.
Terbayang jelas di pikirannya saat tetesan air mata dari mata yang begitu indah dan menatapnya begitu dalam, dan saat hati yang tulus itu berjanji akan kembali.
“Yan, aku .. aku, harus pergi”, ucapnya sambil tersendat-sedat.
“Kenapa harus sekarang?” dia tak relah gadis yang dicintainya harus pergi meinggalkanya.
“Mungkin ini yang Tuhan so rencakan for torang ” ucap gadis itu sambil menundukan kepalanya.
“Saat kamu kembali mungkin aku sudah tak disini” Riyan tetap berharap bisa menahan kepergiannya.
“Saat aku kembali, dimana kamu berada, disitu aku akan bersamamu. Itu janjiku” sambil dia manatap pria yang kian terbujur kaku didepannya, dan menggenggam tangannya.
Riyan meraih gelasnya yang berisikan kopi hitam yang perlahan-lahan mulai mendingin, diambilnya handpone putih dari kantong jaketnya dan memainkan sebuah lagu untuk mengusir kesepian yang dirasakannya, dipilihnya lagu forefer in love dari alunan musik indah saxophone Keny G, lagu itu kembali mengingatkanya pada gadis cantik yang perna mengisi hari-harinya beberapa tahun yang lalu.
Gadis cantik itu bernama Alya Angelia, saat itu dia mendapat kabar bahwa ayahnya masuk rumah sakit dan memintanya untuk datang menemuinya, ayahnya tinggal di Amsterdam setelah perusahaan tempatnya bekerja di Jakarta dulu memindahkannya ke pusat perusahaan di Amsterdam, Belanda. Ibu dan ayahnya sudah lama bercerai saat mereka masi tinggal di Yogyakarta, tak lama setelah orang tuanya bercerai dia dan ibunya pindah ke Manado, Ibunya meninggal beberapa tahun setelah mereka pindah, ibunya mengidam kangker hati primer, kejadian itu membuatnya menjadi seorang gadis yang sangat pendiam, bahkan tak mau bergaul dengan siapapun, sampai akhirnya dia kenal dengan Riyan, yang membuatnya kini kembali menjadi gadis yang ceriah. Riyan dan Alya sama-sama kulia di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di kota Manado, Riyan juga adalah seorang perantau yang menempu pendidikan di kota itu, namun setelah tiga tahun bersama, Alya harus meninggalkanya selain karena ayahnya sakit di sana, dia juga sudah memutuskan untuk melanjutkan kulianya di Belanda. Sudah beberapa kali sejak ibunya meninggal, ayahnya memintanya untuk pindah kesana, namun Alya selalu menolaknya, tapi kini keadaanya berbeda, Alya tidak ingin kehilangan ayahnya, sudah cukup baginya kehilangan seorang ibu, kini ayahnya terbaring di rumah sakit, walaupun sangat berat baginya meninggalkan pria yang dicintainya itu, namun Alya telah memutuskan untuk tetap pergi.
Janji dua tahun silam di tepih danau tondano yang masi dia pengang erat hingga saat ini kembali terngiang-ngiang di kepala Riyan, dalam pikiranya betapa bodonya aku ini, mungkin saja janji itu hanya luapan dari emosi sesaat dua orang anak muda yang saling mencintai namun harus berpisah, tetapi hatinya seakan menolak keras hal tersebut dan meyakinkannya bahwa dia pasti akan kembali.
Kilas balik kejadin dua tahun lalu
21 mei 2010
Saat itu Alya meminta pada Riyan untuk mengantarnya ke kuburan ibunya, Riyan tak tahu kalau Alya hendak berpamitan pada ibunya, Setelah meninggalkan lokasi pemakaman, mereka menuju danau tondano untuk menikmati sore itu.
Setelah beberapa saat mereka berjalan-jalan di sekitar danau itu, Alya pun memberitahukan niatnya pada Riyan, bahwa ayahnya sedang sakit di Amsterdam dan Alya akan kesana untuk mengunjunginya, dan mengatakan bahwa dia juga hendak melanjutkan kulianya disana, mendengar hal itu, Riyan serasa disambar petir dan membuatnya terbujuk kaku, setelah terjadi perdebatan antara mereka, Riyan pun ahirnya pasrah, Riyan tak tahan melihat deraian air matanya yang seakan berkata bahwa dia pun tak relah untuk meninggalkannya.
Mereka berdua menghabiskan saat-saat terakhir mereka bersama dengan menyusuri tepi danau itu, suasana dingin, ditamba hujan gerimis dan kabut tebal seakan akan tidak menjadi penghalang bagi mereka, sesekali dipandanginya wajah gadis itu sambil dalam hatinya tetap berharap bisa menahan kepergiannya.
“Yan, pulang yuk udah malam, aku juga mulai kedinginan” sembari memalingkan badan menatap Riyan.
“Oh iya, aku ambil motor dulu, ini pake jaket aku” sontak dia melepas jaket hitamnya.
“Gak usah, nanti malah kamu yang kedinginan” sambil mencoba menahan tangan Riyan untuk melepaskan jaket itu.
“Alyaaa!” Mendengarnya mengtakan itu Alya pun melepaskan tangannya yang tadinya hendak menahan Riyan melepaskan jaketnya.
“Tapi kamu benar gak apa-apa kan” sembari menatapnya dan terseyum manis seolah-olah semua baik-baik saja, namun dari raut mata itu nampak bahwa sebenarnya jauh dalam hatinya ada kesedihan yang mungkin jauh melebihi apa yang dirasakan Riyan.
Riyan pun menundukan kepalanya, dan berkatah dalam hati “Bagaimana mungkin aku gak apa-apa, besok kamu pergi, dan Amsterdam bukanlah tempat yang dekat”
Riyan menuju ke tempat dimana motornya terparkir, dan mereka ahirnya kembali ke kota Manado, selama perjalan pulang mereka hanya terdiam, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Tiga pulu menit kemudian mereka sampai di kota Manado, Riyan melihat tak jauh didepan mereka ada sebuah restoran.
“Kamu mau makan?” sambil memalingkan kepalanya sejenak ke belakang.
“Iya aku lapar, kamu juga lapar?”
“Kita makan dulu ya, it’s last dinner you and me”
Riyan terkejut saat gadis itu memeluknya dengan erat dan dirasakannya baju kaos putih yang dia kenakan tiba-tiba basah, dan suara tangisan pun terdengar di telinganya, saat itu barulah dia sadar bahwa Alya sedang menangis, air mata kini membasahi pundaknya, diapun menepi di pinggir jalan dan menghentikan motornya, dipalingkannya wajahnya pada gadis itu, namun dia hanya memeluknya dengan erat, Riyan memanggil namanya, namun hanya suara tangisan yang terdengar di telinganya, tiba-tiba diselah suara tangisannya terdengar suara Alya yang begitu lembut.
“Riyan it’s not last dinner, i will back, I promise you” dia melepaskan pelukannya, sambil mengusap air matanya, “untuk sementara jarak mungkin akan memisahakan kita, tapi itu bukan berati hati dan jiwa kita juga ikut tepisah”
Riyan hanya terdiam, distaternya motor itu dan mereka menuju ke restoran yang hanya berjarak sekitar seratus meter dari tempat mereka berada.
Restoran nampak sepih malam itu, mereka pun duduk berhadapan di salah-satu meja yang berada disamping jendela, dengan cahaya lampu di yang remang-ramang, alunan instrument forever in love, ditambah dengan turunnya gerimis, semakin mencipatakan atmosfer yang begitu romantis.
“Berapa lama Al?” pertanyaanya Riyan dan membuat Alya membalikan badan setelah beberapa saat dia hanya memandangi hujan gerismis dari jendelah kaca didepannya.
Dia hanya hanya menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa dia pun tidak tahu kapan dia akan kembali.
“Namun pasti aku akan kembali, karena aku tahu saat itu masi ada hati yang menungguku, masi ada tangan terbuka yang akan menyambut kedatanganku” Alya menatap Riyan begitu dalam, untuk meyakinnya bahwa dia pasti kembali.
“Bahkan jika kau tak kembali, akulah yang akan mencarimu”
“Kamu tahu Yan, kenapa aku suka sekali melihat pelangi” sambil kembali memandangi rintik-rintik hujan yang membasahi kaca didepannya.
“Karena pelangi hanya muncul sehabis hujan” Riyan meraih gelas di depannya yang berisikan air putih “kamu sudah perna bilang itu, tapi tidak akan ada pelangi dalam kegelapan malam, pelangi itu mungkin tak akan nampak untuk waktu yang lama Al, karena hujan ini akan bertahan bertahun-tahun“
Setelah itu mereka berdua pun hanya terdiam dan menikmati makan malam. Setelah makan Alya ke Toilet untuk membasuh wajahnya. Setelah kembali, Alya kembali menatap hujan gerimis yang mengguyur kota Manado malam itu, Alya memalingkan wajahnya sejenak dan menatap Riyan.
“Dulu waktu mama aku masi di Rumah Sakit, saat itu aku masi duduk di bangku kelas 2 Sma” wajahnya kembali menatap jendela sembari memandangi rintik-rintik hujan. Dan kemudian melanjutkan ceritanya “suasananya persis seperti malam ini, hujan gerimis juga menghiasi malam itu, waktu itu tanggal 03 Desember 2005, empat hari sebelum mama meninggal, dia menggenggam tanganku dan berkata, “Alya jika suatu saat mama sudah gak ada, jangan biarkan hujan itu membatasimu untuk melangkah, seperti halnya sehabis malam pasti akan ada paginya, demi juga sehabis hujan pasti akan ada langit yang cerah” Saat itu aku belum tahu bahwa dia mengidam Kangker hati, empat hari setelah itu tepatnya tanggal 07 Desember mama meninggal, barulah aku tahu kalau ternyata selama ini dia menyembunyikan penyakitnya dari padaku, dia mengidam kangker hati primer, duniaku seolah-olah runtuh saat itu, aku tak tau apa yang harus aku perbuat, semenjak itu aku menutup diri dari dunia luar, tempat yang aku tau hanya dua yaitu Sekolah dan rumah, setelah kematiannya aku hanya tinggal dengan seorang bibi di rumahku, dia sudah seperti keluargaku sendiri bahkan sebelum aku lahir dia sudah tinggal bersama orangtuaku di Jogja, setelah orang tuaku bercerai dia tetap ikut bersama kami, dan saat kami pindah ke Manado dia pun memilih meninggalkan tanah kelahirannya demi ikut dengan kami. Berkali-kali ayahku memintaku untuk menyusulnya ke Amsterdam, tapi selalu kutolak, terlebih saat aku sudah mengenalmu, masi ingat saat pertama kita ketemu?”
“Iya, aku masi ingat” Riyan mengangguk.
“Hari itu aku sangat takut, setelah ibuku meninggal, tak perna aku pulang kerumah lewat dari jam enam sore, dan saat kamu meminjamkan payungmu padaku aku merasa lega, tapi dalam perjalanan pulang aku baru ingat aku tak tahu kemana harus kukembalikan payungmu sampai saat kita bertemu di gereja pagi itu dan saat itulah pertama kalinya aku mulai membangun hubungan pertemanan dengan orang lain, dan semakin aku mengenalmu sepertinya duniaku yang tadinya runtuh kini mulai tertata kembali, jangan biarkan hujan membatasimu, seperti halnya malam pasti ada paginya demikian juga setelah hujan pasti akan ada langit yang cerah, aku berpikir kau adalah langit cerah itu. tapi sekarang kau bukan hanya langit yang cerah buatku, tapi kau adalah pelangiku”
Dia menghelah nafasnya begitu dalam, nampak raut wajahnya dipenuhi dengan kesedihan, matanya masi berkaca-kaca.
“Tapi kini ayahku sedang sakit disana, aku telah kehilangan ibuku, dan aku tak ingin kehilangan ayahku juga” sambungnya
“Kenapa kau tak kembali setelah ayahmu sehat?” Riyan menatap Alya.
“Ayahku tidak akan mengijikan aku kembali hidup sebatangkara di Kota ini, aku juga sudah berjanji akan menemaninya disana sambil melanjutkan kuliaku, impianku selama ini kini akan kuperjuangkan dibawa langit-langit kota Amsterdam”
“Kapanpun kamu pulang aku akan selalu menunggumu!” mendengar ceritanya kini meskipun berat rasanya, tapi Riyan akhirnya benar-benar merelakan kepergiannya, dia tak ingin bersifat egois dengan menahannya.
“Aku tahu itu, kejarlah impianmu disini Yan, dan seperti katamu kalau saja aku tak kembali, susullah aku karena akupun akan selalu menunggumu” mendengar kata-kata itu Alya akhirnya lega, karena kekasihnya itu benar-benar mengizinkannya untuk pergi.
Riyan pun hanya mengangguk, dilihatnya jam ditangannya kini menunjukan pukul 21:35, setelah hujan redah, mereka pun meninggal restoran itu, Riyan mengantar Alya kerumahnya, tepat didepan rumahnya merekapun berhenti,
“Ahirnya sampai juga” katanya sembari turun dari motor.
“Besok berangkat jam berapa?”
“Jam 10 pagi”
“Aku antar ya?”
“Iya, jangat telat yah!” Alya tersenyum manis sambil menatap kekasinya yang masi duduk diatas motor merah yang ditungganginya.
“Iyah” ucap sambil Riyan turun dari motornya.
Riyan pun mencium keningnya, Alya hanya terdiam dan menutup mata, kemudian Riyan memeluknya, Alya membalas pelukannya, cukup lama keduanya berpelukan,
“I love you Al” ucap Riyan tepat di telinga Alya.
“I love you too, I will always love you” jawab Alya sembari terus memeluk kekasinya itu dengan sangat erat.
Alya berjalan menuju ke pintu rumahnya dan melambaikan tangan pada Riyan yang sudah menyalakan motornya bersiap untuk pulang ke Kontrakannya.
Jam Sembilan pagi keesokan harinya Riyan menjemput Alya di rumahnya dengan meminjam mobil milik Hans teman satu kelasnya di kampus, setelah menunggu beberapa saat, nampak Alya ditemani bibinya keluar dari dalam rumah, Riyan menghampiri mereka dan membantu Alya mengangkat kopor hitammya untuk dimasukan dalam bagasi, sementara Alya memeluk bibinya dan berterima kasih sudah merawatnya selama ini.
“Terima kasih bi’ selama ini sudah jaga Alya?”
“Sama-sama, nak Alya kan perna bilang bibi’ sudah seperti ibunya sendiri, nak Alya juga sudah seperti anak bibi’, jadi sudah kewajiban bibi buat jaga nak Alya” bibi’ yang sudah merawatnya selama ini pun nampaknya juga sangat sedih harus berpisah dengan Alya.
Riyan akhirnya selesai masukan kopor Alya kedalam bagasi dia hanya terpaku menatap mereka berdua yang saling berpelukan, nampaknya bibi’ itu sedang menangis begitupun dengan Alya.
Setelah itu Alya dan Riyan pun berjalan menuju bandara, beberapa menit kemudian mereka tiba di bandara, sebelum masuk dalam terminal bandara tiba-tiba Alya menarik tangan Riyan dan memeluknya, sontak mereka pun jadi perhatian orang-orang, namun mereka tidak peduli. Setelah berpelukan beberapa saat Alya berjalan menuju terminal dan melambaikan tangannya pada Riyan, begitupun Riyan melambaikan tangannya pada Alya, dan itulah terakhir kali Riyan melihat wajah kekasihnya itu.
Kilas balik berahir
Beberpa bulan setelah kepergian Alya mereka masi sering menjalin komunikasi melalui telepone, namun bulan kedelapan kepergiannya tepatnya 16 Oktober 2009 itulah saat terahir mereka berkomunikasi, setelah itu nomor Alya tidak lagi bisa dihubungi oleh Riyan, sampai saat ini Riyan selalu berusaha untuk menghubunginya, tapi tetap tidak biasa, sekarang harapannya hanya satu yaitu janji di tepi danau Tondano empat tahun yang lalu.
Setahun kemudian setelah kepergian Alya, Riyan pun menyelesaikan kuliahnya, tak berselang lama salah seorang saudaranya menawarkannya berkerja di perusahan tempat dia bekerja di Jakarta, kebetulan perusahaan itu sedang membutukan tenaga kerja yang jurusannya sesuai dengan jurusan yang Riyan ambil saat kuliah dulu, tiga tahun setelah Riyan bekerja, dia memutuskan untuk mengabil cuti agar bisa pulang ke kampung halamannya, dia mendapatkan cuti tiga minggu dari perusahaan itu, dua hari sebelum dia kembali ke ibu kota Riyan memutuskan untuk mendaki puncak gunung Mussa’.
Diambilnya handpone yang masi terus memainkan musik instrument itu, tak terhitung lagi berapa banyak lagu yang telah dia putar malam itu, ia pun berdiri dan mengambil setumpuk kayu di belakang tendanya untuk dimasukkan dalam api, dilihatnya jam ditangannya kini menunjukan pukul 00:20 dia pun masuk dalam tendanya dan beristirahat memulihkan tenaganya sebelum besok pagi dia harus turun dari gunung itu.
Riyan tidak tahu kalau gadis yang dinanti-nantinya kini berada di Indonesia. Namun kini Alya sudah tidak mengenali Riyan lagi, tangal 17 Oktober 2009 Alya mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya namun berkat kerja keras tim medis ahirnya dia bisa tertolong tapi sebagian ingatannya terhilang dia mengalami tetrograde amnesia (instilah medis, dimana seseorang melupakan sebagian ingatannya sebelum kurun waktu tertentu), kejadian terahir yang diingat oleh Alya adalah ketika ibunya meninggal, setelah kejadian itu Alya tidak ingat apa-apa lagi termasuk dengan Riyan.
Dua hari kemudian Riyan pun kembali ke Jakarta rutinitasnya di ibu kota kini menantinya, tak berselang lama ahirnya pesawat yang di tumpanginya mendarat di Bandar udara Soekarno-Hatta, setelah mengambil kopornya Riyan pun berjalan keluar, Riyan menuju ke sebuah cafe untuk beristirahat, awalnya Riyan berjalan santai masuk ke cafe tersebut, namun betapa terkejutnya dia saat dia melihat seorang gadis cantik, dengan rambut panjang terurai sedang duduk di sala-satu meja dalam cafe itu sambil tertunduk memainkan ponselnya, Riyan perlahan-lahan melangka mendekati gadis itu, semakin Riyan mendekatinya dia semakin yakin, tak salah lagi itu adalah Alya.
“Alya” tak sadar Riyan memanggil namanya dengan cukup keras, dan membuat seisi cafe itu memandanginya.
Dia pun mengangkat kepalanya, dan memperhatikan orang-orang yang memandangi mereka, kemudia menatap Riyan dengan tatapan datar “iyah, anda siapa yah?”
Riyan terkejut mendengar apa yang dikatakan Alya, raut muka yang tadinya begitu bahagia kini berubah jadi pucat, tubunya menjadi kaku bagaikan patung, mulutnya gemetar “Kamu lupa dengan a……”
Belum selesai ia berbicara, Alya tiba-tiba berdiri dan melambaikan tangannya “hay dad..”
“hay Al” jawab pria itu,
Pria separu baya itu pun mendekati Alya yang sudah menyambut kedatangannya, sementara Riyan masi terbujur kaku.
Pria itu menyapa Riyan “Anda ini siapa yah?, anda kenal anak saya?”
“Tidak pak, Maaf saya salah orang” Riyan hanya menoleh sedikit, dan menatapnya.
Dengan wajah yang gugup dan pucat, serta tangan yang gemetar diambilnya kopornya kemudian berjalan meninggalkan cafe itu dalam perjalanan pulang Riyan baru sadar bahwa ponselnya ketinggalan di meja dalam cafe tadi, namun tak mungkin untuk kembali dan mengambilnya, jaraknya dari bandara sudah cukup jauh, namun dia menganggap itu tak penting karena yang ada dalam pikiranya hanya Alya yang sudah tidak mengenalinya lagi.
Pukul tujuh malam ahirnya Riyan sampai di apartemenya, Dani yang tinggal bersebelahan dengan menyapanya, tapi jangankan membalas sapaannya, tersenyum saja tidak, ekspresi dipenuhi kegalauan dia nampak sangat lemas, yang didengar Dani hanya pintu yang dibanting sangat keras, dia pun bertanya-tanaya ada apa dengan Riyan.
Setelah kejadian itu hidup Riyan benar-benar kacau, dalam pikirannya hanyalah Alya, harapan yang dia bangun selama ini kini sirna, hatinya serasa hancur berkeping-keping, setiap dia memejamkan matanya yang muncul hanyalah Alya sambil berkata “iyah, anda siapa yah”. Sudah beberapa hari dia tak tak masuk kerja, sampai ahirnyad ia mendapat teguran dari kantornya, dan mengancam akan memecatnya.
Kesokan harinya Riyan ahinya mulai masuk kerja, dia mulai kembali menjalani kehidupannya seperti biasa, tapi bayang-bayang Alya tetap tak bisa lepas dari ingatannya, terkadang dia mengambil kerja lembur bukan karena uangnya tapi semata-mata untuk menyibukkan diri.
Satu bulan setelah pertemuan mereka di Bandara, Alya menemukan sebuah handpone di laci meja Ayahnya, dia ingat itu adalah milik laki-laki yang bertemu dengannya di bandara waktu itu, karena penasaran Alya pun menyalakannya, setelah mengamati wallpaper handpone itu yang memperlihatkan foto seorang gadis yang tampak dari belakang mengenakan payung hitam, sedang berjalan dibawa guyuran hujan, tiba-tiba air mata mengalir dipipinya, dia ingat kalau itu adalah dirinya, semua memori yang perna dilupakannya ahirnya teringat kembali.
Disaat yang sama Riyan mendapat proyek di Nusa Tenggara Barat, namun karena pekerjannya selesai lebih cepat dari jadwalnya Riyan memutuskan untuk mendaki Gunung Rinjani sebelum dia kembali ke Jakarta. Riyan pun menyewa beberapa peralatan pendaki yang disiapkan disana, keesokan harinya setelah semua peralatannya siap, Riyan pun memulai perjalanannya meskipun beberapa saat yang lalu hujan sempat mengguyur tempat itu ditamba cuaca yang sedang mendung seakan tidak menjadi penghalang baginya, namun sontak langkanya terhenti saat mendengaar teriakan dari bekangnya, suara yang nampak tak asing baginya.
“Yan maafkan aku” suara seorang gadis menggemah di telinganya.
Riyan pun membalikan badannya, dan tampak Alya berdiri tak jauh dari tempat dia berdiri, yang juga lengkap dengan peralatan mendaki.
“Alya” Riyan tampak terkejut melihatnya.
Alya pun berlari dan memeluknya “Maafkan Aku”
“Bagaimana kau bisa ada disini?” Riyan masi tampak kebingungan, pikirannya masi dipenuhi dengan setumpuk pertanyaan.
“Saat aku kembali dimana kamu berada disitu aku akan bersamu, Aku tak akan mengingkari janjiku” Alya terus memeluk Riyan, raut wajahnya dipenuhi kebahagiaan, senyum manis terpancar dari wajahnya.
“Riyan lihat, ada pelangi” Alya pun melepaskan pelukannya, sembari menunjuk ke arah pelangi yang terbentang dibalik pegunungan.
Riyan memalingkan pandangnnya dan ikut memandangi pelangi itu.
Alya berlari mendahuluinya sambil berteriak “Riyan, ayo cepat”
“Tunggu jelaskan dulu semuanya” teriak Riyan memandangi Alya, yang sedang berlari di depannya.
Alya melambaikan tangannya dan berteiak “Akan kujelaskan semuanya setelah kau antarkan aku ke puncak Rinjani, Pelangiku”
Riyan tersenyum melihat tingka Alya di depannya dan kemudian berlari mengejarnya mengejarnya.
SELESAI

Komentar
Posting Komentar