Langsung ke konten utama

TUHAN DAN ADANYA KEJAHATAN DAN PENDERITAAN (Bagian 1)

Pandemi belum berakhir, duka masi terus berlangsung, ratusan orang kehilangan saudara, anak kehilang orang tua dan sebaliknya, tingkat kemiskinan kian meningkat kelaparan seakan menjadi wabah lain di tengah pandemi, perang di timur tengah seperti tidak berujung, bom terus meledak memporak-porandakan Afganistan, nyawa manusia seakan tidak ada artinya dan berbagai persoalan lain menghantui kemanusian dunia modern hari-hari ini. 

Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan lama : Dimana Allah di tengah semua penderitaan dan kejahatan ini? Persoalan ini penting dan sering diperdebatkan, Tuhan dan adanya penderitaan dan kejahatan. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa kejahatan dan penderitaan yang dialami manusia, seakan menuntut pertanggungjawaban dari Allah Sang Pencipta segalanya. Diperhadapkan pada kesan diamnya Allah terhadap penderitaan dan kejahatan itu pertanyaan tentang eksistensi Tuhan menjadi tak terhindarkan. 

Kalau Allah Maha-baik, kenapa Dia menciptakan atau membiarkan kejahatan dan penderitaan. Kalau Allah Maha-kuasa kenapa Dia tidak mencegah kejatahan dan penderitaan?, Bukankah sesatu yang kejam jika Allah mampu mencegah kejahatan dan penderitaan namun dia tidak mau melakukannya. Adanya kejahatan dan penderitaan kerap dianggap bukti ketiadaan Allah. 

Dalam tradisi filsafat persoalan ini disebut “masalah theodise”, istilah teodise (dari “theos”, Allah dan “dike”, keadilan) pertama kali disebut oleh Filosof Jerman Gottfrued Wilhelm Leibniz dalam karyanya yang popular Theodicee, sekalipun pembicaran dan solusi untuk masalah kejahatan dan penderitaan telah diajukan sebelumnya. 

Teodisie diartikan sebagai pembenaran Allah. 
Secara sederhana artinya kejahatan dan penderitaan kelihatan bersifat paradoks dengan eksistensi Tuhan yang Maha-tahu, Maha-baik, Maha-kuasa dll. Sehingga seakan-akan perlu dibenarkan. Louis Leahy dalam bukunya Filsafat Ketuhanan Kontemporer menyebut bahwa kenyataan antara banyaknya kejahatan dan penderitaan di dunia ini adalah penyebab utama keraguan tentang apa yang diimani sebagai kebenaran, dan merasa mau memberontak melawan Allah. 

Diperhadapkan pada kejahatan dan penderitaan manusia mengajukan proses : kenapa Engkau, Allah yang Maha-baik mengizikan keadaan seperti ini berlangsung? Bukankah Engkau, Allah Maha-kuasa, Engkau berkuasa untuk meniadakan penderitaan dan kejahatan? Franz Magnis-Suseno menyebut “tak dapat dipungkiri : Penderitaan orang yang tidak bersalah adalah batu sandungan paling gawat, bagi orang yang mau percaya pada Allah”.

Kondisi ini kemudian menuntut pembenaran, Allah memang tidak memerlukan pembenaran kita sebagai manusia, namun sebagai orang percaya, kita tidak dapat menghindar dari pertanyaan tentang bagaimana kebaikan, keadilan, kemahakuasaan Allah disesuaikan dengan segala malapetaka, penderitaan, kejahatan di alam ciptaanNya (Magnis-Suseno 2006, 217). 

Dewasa ini tengah skeptisme keagamaan, banyak orang yang mulai menolak untuk percaya pada Allah dengan berbagai alasan. Merekalah yang menuntut pertanggungjawaban iman kepada Allah dari kita. 
 
Mengurai masalah ini memang tidaklah gampang, masalah yang diajukan tidak datang dari ruang kosong melainkan betul-betul berangkat dari realitas bahwa ada penderitaan dan kejahatan di dunia ini. 

Mengikuti jalan yang ditempuh oleh Louis Leahy dan Franz Magnis Suseno, kita membedakan dua masalah, masalah kejahatan dan masalah penderitaan. Pada tulisan ini lebih dahulu saya akan menguraikan masalah kejahatan (pada bagian selanjutnya kita akan membicarakan masalah penderitaan).

Leabniz menyebut kejahatan sebagai Molum morale, keburukan moral, kejahatan menyangkut fakta bahwa manusia tersebut secara sadar dan atas dasar kemauannya untuk berbuat jahat artinya tidak dalam dorongan emosi, nafsu juga bukan karena keterpaksaan, entah karena ancaman pihak lain, atau karena kondisi-kondisi lain misalnya mencuri karena tuntun ekonomi yang betul-betul terpaksa. 

Dalam pengertian ini yang ingin dilihat adalah sikap yang betul-betul menolak tarikan hati nurani, nekat untuk berbuat keji, kejam, tidak adil meski menyadari sikap-sikap itu jahat. 

Pesoalan  yang jelas penting adalah mengapa ada kejahatan? Atau mengikuti apa yang dipertanyakan Schelling : Bagaimama ada kejahatan disamping Allah yang Maha-kuasa? 

Jika tuntutan kesadaran moral bersifat impertif kategoris atau harus dilakukan dimana kita memiliki kesadaran berbuat yang baik dan bukan yang buruk adalah mutlak, hal ini sejalan dengan tuntutan hati nurani, maka yang jahat mutlak harus tidak ada. Atau dengan kata lain, kita dapat “memaafkan” suatu pembunuhan kalau hal itu terjadi karena emosi manusia yang tak terkendali, atau perselingkuhan karena hawa nafsunya. 

Namun seperti yang dikemukakan sebelumnya kejahatan yang dibicarakan disini berbedah. Kejahatan terletak pada kehendak seseorang yang tidak mau bersifat baik,yang sadar sepenuhnya akan tidakan yang baik dan jahat namun tetap memilih untuk berbuat jahat. 

Kenapa hal tersebut terjadi ? jawaban pertama, Allah mau menciptakan sesuatu maka sangat masuk akal kalau Allah menciptakan manusia itu sebagai mahluk berakal budi. Tetapi mahluk berakal budi dengan sendirinya menjadi mahluk yang bebas dalam pengertian bahwa dapat memilih sepenuhnya sebelum bertindak. 

Bagi Allah menciptakan manusia seperti robot-robot yang secara otomatis berbuat sesuai kehendakNya tidak memiliki nilai apapun. Allah menciptakan manusia dengan menganugrahkan kepadanya kemampuan untuk menjawab cinta kasih Allah secara bebas. Tetapi hal itu mengandung resiko bahwa manusia berpotensi memakai kebebasannya untuk menolak Allah termasuk menolak apa yang ditolak oleh Allah, melakukan sesuatu hal di luar kehendak Allah yang disebut kejahatan. 

Apakah jawaban ini sepenuhnya memadai? Jawaban yang diajukan jelas memakasa kita untuk menanyakan lebih lanjut. Jika kehendak bebas manusia adalah asal usul kejahatan maka kita kembali menyentuh pesoalan penting lain yaitu kehendak bebas manusia diperhadapkan dengan kemahakuasaan Allah. 

Suatu keputusan ditentukan oleh manusia sepenuhnya, ia dianggap tidak ditentukan oleh Allah dalam artian makin bebas manusia dalam menentukan keputusannya, makin Allah tinggal menerima keputusan tersebut, dengan demikian kehendak bebas manusia dianggap tidak memberi ruang pada kemahakuasaan Allah. 

Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah Allah sepenuhnya tidak ikut campur dalam kehidupan manusia bukankah sebagian besar kehidupan manusia ditentukan oleh pilihan-pilihannya berdasarkan kehendak bebasnya, istilah lasim yang sering kita ucapkan adalah “hidup ini adalah pilihan” apakah Allah sepenuhnya lepas tangan, jadi Allah hanya mengurus pencitaan awal dan penghakiman tekahir selebihnya Dia hanya diam? Saya tidak akan menguraikan jawaban untuk pertanyaan lanjutan itu, namun ini menunjukan bahwa pada argument pertama, kita tetap masi menemukan celah untuk bertanya lebih lanjut.

Jika demikian adakah jawaban lain yang dapat diajukan? Jawaban  kedua adalah bahwa kejahatan tidak dapat dimaknai sebagai realitas pada dirinya sendiri, melainkan kurangnya sebuah realitas yang seharusnya ada. 

Dingin itu tidak ada yang ada adalah ketiadaan panas itulah kenapa yang bisa diukur adalah panas, dingin artinya panas yang minus. Gelap itu tidak ada yang ada adalah ketiadaan cahaya itulah kenapa yang diukur adalah cahaya, gelap artinya cahaya yang minus. Dalam pengandaian yang sama kejahatan itu tidak ada yang ada adalah ketiadaan kebaikan atau kurangnya kebaikan. 

Jadi kejahatan tidak dapat dimaknai sebagai ciptaan Allah, seperti halnya bumi diciptakan, hewan dicitakan manusia diciptakan. Kejahatan adalah apabila sesuatu yang diciptakan ada, namun oleh ciptaan ditiadakan. Jadi kejahatan dipahami sebagai realitas negatif dari kebaikan, negatif dalam arti logis sebagai realitas yang  tidak ada padahal seharusnya ada (bdk Weissmahr 1983,151, dikutip dari Magnis-Suseno 219). 

Jawaban ini masuk akal, jika Allah tidak menciptakan maka tentu Allah tidak dapat disalahkan atas adanya kejahatan, sesuatu yang diciptakan ada namun ditiadakan oleh ciptaan menunjukan bahwa hal tersebut murni karena keburukan moral dari ciptaan. 

Namun pertanyaan penting lainnya yang tidak terjawab dari argument diatas adalah lalu kenapa Allah membiarkan kejahatan atau realitas negatif dari kebaikan berlangsung? Jawaban kehendak bebas jelas tidak sepenuhnya memadai atau memuaskan, berbagai jawaban lain yang bisa diajukan tentu tidak sepenuhnya dapat memuaskan hasrat intelktual manusia, saya rasa disinilah kita sampai pada keterbatasan pengetahuan, wawasan manusia memang tidak terbatas tapi pengetahuan kita terbatas. 

Kenapa Allah membiarkan kejahatan hal itu --setidak-tidaknya buat saya pribadi-- tidak terselami. Namun yang menjadi point penting adalah adanya kejahatan tidak secara otomatis membuktikan ketiadaan esksitensi Allah, yang melakukan kejahatan adalah manusia, baik karena kehendak bebas maupun sebagai realitas negatif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BEATRICE DAN DANTE

SIAPAKAH BEATRICE? Beatrice  adalah  inspirasi  utama bagi Vita Nuova  karya  Dante Alighieri  dan umumnya diidentikkan dengan Beatrice yang muncul sebagai salah satu pemandu dalam karya besarnya La Divina Commedia  (Komedi Ilahi). APAKAH BEATRICE BENAR-BENAR ADA? Kehidupan wanita terkenal ini diselimuti  misteri  .   Banyak sejarawan mempertanyakan apakah pemandu yang memimpin Dante hanya selangkah dari merenungkan Tuhan dalam  The Divine Comedy  adalah Beatrice Portinari yang sama yang tinggal di Florence. Para ahli telah lama memperdebatkan apakah Beatrice historis dimaksudkan untuk diidentifikasi dengan salah satu atau kedua Beatrices yang ditemukan dalam tulisan-tulisan Dante. Tradisi yang mengidentifikasi  Bice di Folco Portinari  sebagai Beatrice yang dicintai Dante sekarang banyak, meskipun tidak dengan suara bulat, diterima oleh para sarjana. BEATRICE PORTINARI BIOGRAFI Beatrice adalah putri Folc...

Ajarkan Filsafat Sejak Sekolah Dasar

  Bangsa Indonesia hari ini diperhadapakan pada sistuasi yang darurat. tetapi bukan akibat ekonomi yang memburuk, atau gonjang-ganjing politik yang semakin memusingkan kepala, atau berbagai kebijakan publik yang tampak semerawut , m elainkan, bangsa ini darurat akibat hilangnya budaya untuk berpikir kritis, rasional itas dan kejernihan nalar. Penyebabnya adalah mereka tidak diajar sejak dini bagaimana harus berpikir demikian. Membicarakan pendidikan di Indonesia akan selalu mengundang rasa keperihatinan, sejauh pengalaman dan pengamatan saya, pendidikan di Indonesia masih jauh dari hakikat kata pendidikan itu sendiri, sebab yang di dorong bukalah upaya untuk berpikir kritis dan rasional melainkan panggung penyebaran ajaran yang bersifat dogmatisme. Kepatuhan buta dan hafalan adalah metode pengajaran yang utama. Sejak sekolah dasar, dogmatisme nilai akademik sebagai tolak ukur seluru proses pendidikan dan formalisme agama yang juga diajarkan   secara dogmatis adalah “warna...

CERITA PENDEK

PELANGI SEHABIS HUJAN Riyan menatap  jam di tangannya waktu menujukan pukul lima lewat empat puluh delapan menit waktu indonesia bagian tengah,  hari ini terasa berlalu begitu cepat baginya, tak terasa  hampir dua jam dia berada di puncak gunung  yang hanya bertemankan hembusan angin yang kian berhembus semakin kencang, hingga kedinginnan kian merasuk melalui selah pori-pori kulitnya. Sejenak dipanglingkan wajahnya ke horizon di ujung barat, mentari kian terbenam begitu indahnya dengan bias-bias jingga  yang  mengantarkan sang surya yang  kian tenggelam di ufuk barat. Kegelapan mulai menyelimuti hari itu. Diyalakannya api unggun yang sudah di persiapkannya sejak sore tadi, dengan segelas kopi hangat dia duduk di  dekat api untuk menghangatkan badannya ditengah dinginnya puncak Mussa’. Pikirannnya terbawa pada kejadian  beberapa tahun silam, mungkin karena hembusan angin malam itu serasa bersaudara dengan angin sepoi-sepoi di tepih danau ...